Cycling Bachelor

Mar 30

Catatan Untuk Polygon !

Cycling Bachelor memiliki sebuah sepeda Sierra AX produksi Polygon untuk dipinjamkan kepada rekan sesama pekerja ngekost. Hasilnya selama ini menggembirakan, para mantan peminjam terdorong untuk membeli sepeda sendiri untuk menunjang aktivitas mereka. Keinginan memiliki sepeda juga muncul dari mereka yang membaca twit dan terpapar program kami - mayoritas perempuan, dan tergolong awam dalam urusan sepeda.

Karena terbiasa dan nyaman, sebagian besar dari mereka memilih Sierra AX seperti yang kami gunakan. Oh iya, sebelum sempat mencoba, kami juga pernah menulis review (unboxing) mengenai beberapa hal baru di Sierra AX 2011 ini.

Padahal, begitu dicoba ada satu hal yang sangat mengganjal pada Sierra AX yaitu rasio girnya yang terlalu berat. Shimano Nexus 3 speed itu disandingkan dengan sproket 14T sehingga gearinchesnya kalau sy tidak salah hitung adalah 3.7 / 5 / 6.8

Rasio ini, yang jelas sangat berat apalagi mengingat city bike semacam Sierra AX ini sejatiya digunakan kalangan luas termasuk pemula, mereka yang tidak terlatih atau atletis.

Solusi yang kami tawarkan, akhirnya mengganti sproket belakang dengan yang lebih besar. Pilihannya adalah Sproket Shimano Alfine 20T yang mahal ( Rp 74.500 ) dan susah dicari.

Lihat betapa kecilnya cog bawaan Sierra AX dibandingkan dengan cog Alfine! Bayangkan betapa berat rasionya!

Ini sebenarnya menyebalkan. Pertama, kalaupun Polygon tidak mengkalkulasi gear inches, apakah mereka tidak mengetes dulu barang yang diproduksi massal? Ini sangat kontras dengan perhatian Polygon terhadap sepeda spesialisasi di lini MTB dan Roadbike. Kita bisa mengerti bahwa sepeda spesialisasi/hobi mungkin bisa memberi margin lebih besar, tapi city bike sebenarnya memiliki potensi volume. Mungkin arah kampanye sepeda selama ini kurang memperhatikan segi utilitas sepeda dalam urban commuting. Dalam tulisan sebelumnya, kami sudah menggarisbawahi nilai-nilai utilitas dalam Sierra AX sebagai sebuah city bike yang dilengkapi keranjang, rak belakang, lampu, chain cover, dan skirt guard.

Rasio gir yang berat ini juga dapat memberi pengalaman yang kurang menyenangkan bagi mereka yang mulai bersepeda. Sekali lagi ini hal yang menohok bagi mereka yang peduli terhadap gerakan bersepeda.

Ketiga, biaya produksi sepeda dengan cog 14, 18, atau 20 tentu tidak jauh berbeda sekalipun rantainya 2-3 mata lebih panjang. Sementara itu kami terpaksa mengganti cog dengan biaya yang tidak murah, hampir 5% harga sepedanya. 

Keempat, banyak orang telah membeli Sierra AX atas rekomendasi dan pengaruh program kami. Rasanya beban dan tanggung jawab juga, jika kemudian mereka tidak mendapat pengalaman bersepeda yang menyenangkan.

Semoga situasi ini segera disadari Polygon, agar mereka memberi perhatian lebih banyak untuk sepeda utilitas / commuting.

Bagaimanapun juga, kami akan terus berusaha mengajak lebih banyak orang bersepeda - kita-kita yang awam, dan menginginkan pengalaman bersepeda yang nyaman!

Mar 22

[video]

Mar 18

Peminjam Ketiga: Rindut!

From: Rindut

To: cycling.bachelor@gmail.com

subject: Rindut Pengen Sepedahan

Hi,

Aku pekerja yang rajin ke kantor setiap hari. #yaiyalah #kaloGaRajinYaGaDigaji
Aku ngekos di Mampang, kantorku di Gatsu.

Sebenernya pengen sepedahan karna berpikir bahwa itu bisa jadi cara membakar lemak yang fun. Tapi at the end kalo itu bisa jadi salah satu alternatif membelah kemacetan Jakarta apalagi dengan pesonaku yang bertengger di atas sepeda, kenapa ga? Ya kan? Iya.

Intinya, mau pinjem sepedah ama minta temenin.

Horeee!!

Cheers,

- Rindut
Be telat than never.

Terimakasih atas minat kamu terhadap program kami, Rindut!

Semoga bersepeda nanti tidak mengurangi kiprah Rindut dlm menghibur Timeline.

Oh iya, baru sekarang kami pinjamkan sepeda lagi karena beberapa alasan.

Seperti kata Rindut, Be telat than never

SEMANGKAAAA!

Mar 11

Empat Sasaran dalam Menyebarluaskan Budaya Bersepeda

Di Copenhagen, sepeda sudah dianggap seperti penyedot debu; semua orang punya, semua orang menggunakannya setiap hari, tapi tidak ada yang membicarakan atau memikirkannya sepanjang hari. Sepeda, layaknya penyedot debu, sudah dianggap sebagai bagian dari keseharian yang sangat umum dan dari sananya ada – taken for granted.

Seperti itulah Mikael Corville-andersen menggambarkan budaya bersepeda di Copenhagen. Kota di mana 55% lalu lintas di tengah kota adalah sepeda. Kota di mana 37% commuting dilakukan dgn sepeda.  Bagaimana kota Copenhagen mencapai kondisi seperti ini? Mikael sebagai founder dari Copenhagenize Consulting memberikan empat hal yang harus dilakukan untuk memasyarakatkan penggunaan sepeda:

Pertama, perlihatkan sepeda alternatif berkendara tercepat dan termudah. Sebanyak 56% orang bersepeda karena lebih cepat. Hanya 19% yang bersepeda untuk kesehatan, dan 6% karena lebih murah. Alasan lingkungan?  Hanya 1% kok.

Untuk kondisi di Jakarta, kita bisa mengangkat isu kemacetan di mana sepeda lebih lincah dari mobil atau sepeda motor. Serta kondisi kendaraan umum yang tidak nyaman dan terbatas, di mana sepeda lebih tangkas dan bebas.

Kedua, komunikasikan sepeda secara positif. Jangan campuri dengan kata-kata negatif yang menyebarkan ketakutan dan kekuatiran seperti ‘waspada’ atau ‘hati-hati, pakai helm!’

Upaya memasyarakatkan budaya bersepeda perlu dipasarkan layaknya komunikasi pemasaran modern. Gunakan berbagai gimmick, trial, dan promo yang positif dan mengundang simpati. Jadikan bersepeda sesuatu yang keren dan gaya, ketimbang sesuatu yang berbahaya.

Ketiga, fokuskan masalah pada sumbernya: kendaraan bermotor. Mikael mengibaratkan kendaraan bermotor di jalanan layaknya seekor banteng ngamuk di dalam sebuah toko porselen. Ketimbang membungkus setiap porselen satu-persatu, seharusnya kita menjinakkan atau memasung banteng tersebut agar tidak mengganggu.

Jalan-jalan di kota seharusnya merupakan tempat bagi manusia untuk bergerak dan berinteraksi. Semenjak dipopulerkannya kendaraan bermotor, ruang bagi manusia semakin terdesak oleh mesin-mesin yang berbahaya dan menyebarkan polusi. Di sini Mikael menyarankan agar kendaraan bermotor dibatasi dan dikendalikan lebih baik lagi.

Keempat, jadikan sepeda sebagai sesuatu yang mainstream bukan sebuah sub-kultur milik fanatik, hobiis, atau komunitas tertentu saja.

Kita bisa bandingkan poin ini dengan kondisi di Indonesia di mana speeda lebih banyak dijadikan hobi atau rekreasi akhir pekan. Lebih banyak sepeda gunung dan sepeda balap yang dipajang di toko sepeda ketimbang city bike yang fungsional. Lebih banyak orang bersepeda untuk kumpul-kumpul dengan komunitasnya, dibanding bersepeda untuk kegiatan sehari-hari.

Kemudian, Mikael juga menyampaikan 3 kesalahan dalam memasyarakatkan sepeda:

Pertama, tidak adanya visi jangka panjang. Kedua, melihat target yang terlalu sempit hanya pada segmen tertentu. Ketiga, sikap pesimistis ‘it can’t happen here’.

Mikael menjelaskan bahwa setiap kota dan negara memiliki tantangannya sendiri untuk memasyarakatkan sepeda. Misalnya, Amsterdam walaupun rata tapi anginnya sangat kencang. Copenhagen sangat dingin dan saljunya tebal ketika winter. Sementara itu San Fransisco konturnya berbukit-bukit. Tapi kota-kota tersebut berhasil memasyarakatkan sepeda.

Mar 03

Pagar Makan Sepeda

Sebenernya sepeda bisa parkir di mana saja, apa lagi yang dilengkapi kick stand gak perlu cari senderan.

Tapi rak parkiran sepeda itu penting, pertama sebagai benda statis untuk mengunci sepeda. Kedua, rak sepeda punya nilai simbolik bahwa lokasi tersebut menerima dan encourage penggunaan sepeda. Apalagi kalo diletakkan di tempat yang strategis.

Dengan latar belakang ini, Cycling Bachelor merasa perlu punya rak sepeda apalagi karena ada beberapa sepeda yang disimpan di paviliun markas. Setelah survei sana-sini ke tukang besi & las dan kalkulasi biaya -ternyata mahal- kami mencoba peruntungan dgn mencari pagar bekas di pasar loak yang bisa diubah jadi rak. Akhirnya di Pasar Jatayu, Bandung, kami menemukan bekas pagar yang bentuknya lebih mirip rak sepeda! Perfect! 

Setelah pagar kami bayar, barulah tiba-tiba kepikiran gimana cara bawanya ke Jakarta?

Tidak, kami tidak meyuruh tukang becaknya anter sampe Jakarta kok. Cuma sampai Stasiun Kereta.

Berikutnya, pagar ini mesti dikasih dudukan (besi siku) supaya kokoh dlm posisi miring dan lebih bagus sih dicat. Liat nanti budget & niatnya deh.

Stay tuned!

Mar 01

[video]

Feb 25

[video]

Feb 22

Help! We Need A Logo

Minggu ini Cycling Bachelor rehat dulu dari program Test Drive minjemin sepeda, niatnya sambil beres-beres. Pertama, kami akan ganti cog 20T dari yg tadinya 18T (aslinya 14T) agar peminjam nantinya lebih ringan dlm mengayuh dan gear hub Shimano Nexus 3sp lebih teroptimalkan.

Kedua, kami kan belum punya logo! Pengennya setelah masa rehat nanti kita udah punya logo. Mau bantu?

Cycling Bachelor adalah inisiatif nirlaba yg misinya ingin menyadarkan lajang ibukota bahwa bersepeda cocok utk keseharian mereka.

Kebetulan, di antara kami ada avid cyclist, mekanik profesional, geek, pendiri start-up di bidang IT, dan strategist. Kami ingin menyebarluaskan pemahaman dan kesadaran bersepeda. Selain ngobrol lewat twitter, blog, dan meminjamkan sepeda, Cycling Bachelor juga bisa memfasilitasi kumpul-kumpul.

Secara, di sini kumpul laki-laki dan perempuan dgn demografi mirip-mirip, sama2 sepedahan, night ride bareng, who knows kalo Cycling Bachelor bisa jd semacam dating pool juga?

We’re cycling and looking!

Kita pengen logo yg mencerminkan semua itu. Gaya hidup lajang di metropolitan, dan subkultur bersepeda yg genuine. Mungkin semacam HIMYM tapi versi naik sepeda.

Logo ini nantinya kami aplikasikan utk dipasang di sepeda, merchandise, online presence, dan keperluan lainnya dlm aneka format dan resolusi.

Cycling Bachelor blm bisa menjanjikan apa-apa sebagai hadiah, tapi kalau akhir minggu ini sudah ada logo yg terpilih desainernya kami traktir minum2 deh! Kirim ke cycling.bachelor@gmail.com ya!

Feb 21

Oh yes we went so well..

Oh yes we went so well..

All Went Well

Berawal dari ide om HS Gautama mengenai bersepeda utk anak kost, kami membuat Cycling Bachelor ini sebagai inisiatif utk mengajak lajang-lajang ibukota sepedahan.

Program peminjaman sepeda yg kami gulirkan berhasil menarik perhatian, so far sudah dua orang yang kami pinjami sepeda, Natalia dan Rahne.

Puas banget rasanya ketika minggu lalu Natalia akhirnya membeli sepeda! Kami masih ingat di awal peminjaman padahal Natalia masih canggung bersepeda..

Lihat, baju dan sarung tangan Natalia match warna biru seperti sepedanya! Ke mana saja Natalia bersepeda dalam hari-harinya, bisa diliat di Endomondo.

Semoga ke depannya lebih banyak lagi yang bisa kita sadarkan, betapa pasnya bersepeda utk menunjang aktivitas lajang ibukota!